Rabu, 16 April 2014 - 17:42
English

PBB: Kejahatan Kemanusiaan Realita di Suriah

Terkait :

TerasposMakin sengitnya pertempuran di Suriah membuat kedua belah pihak yang bertikai tak lagi memperdulikan 'etika' berperang. Tim penyelidik PBB menemukan bukti  kejahatan kemanusiaan  dilakukan oleh kedua belah pihak dan terjadi setiap hari.

Baik pemerintah dan pemberontak dianggap sama-sama melakukan pembantaian, terlibat dalam penyiksaan dan mungkin telah menggunakan senjata kimia.

Dalam laporannya Komisi Penyelidikan PBB, Selasa (4/6) mengatakan  militer dan para pemimpin pemberontak harus bertanggung jawab menerapkan "kebijakan bersama" atas pelanggaran hak asasi manusia.

"Kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan telah menjadi kenyataan sehari-hari di Suriah di mana kejadian-kejadian mengerikan menyengat hati nurani kita," kata laporan tersebut. 

Penyidik mengatakan mereka memiliki alasan yang kuat untuk meyakini bahwa sejumlah senjata kimia telah digunakan di Suriah.

Laporan terbaru mereka didasarkan pada wawancara dengan korban, staf medis dan saksi lainnya. Mereka mengatakan, mereka telah menerima dugaan bahwa pasukan pemerintah Suriah dan pemberontak telah menggunakan senjata yang dilarang, tetapi sebagian kesaksian mengarah pada senjata yang digunakan oleh pasukan Presiden Bashar al-Assad.

Penyelidikan mengatakan temuan konklusif dapat dicapai hanya setelah melewati pengujian sampel yang diambil langsung dari korban atau dari tempat serangan yang dituduhkan. Hal ini jadi imbauan ke Damaskus untuk mengizinkan tim ahli masuk ke negara itu.

Negara-negara Eropa harus mempertimbangkan dalam mempersenjatai pemberontak Suriah.

Laporan itu memperingatkan bahwa transfer senjata akan meningkatkan resiko pelanggaran, yang menyebabkan lebih banyak kematian sipil dan cedera.

Ban Ki-moon, Sekretaris Jenderal PBB, telah menunjuk tim PBB untuk menyelidiki dugaan penggunaan senjata kimia di Suriah. Setelah pemerintah Suriah memintanya untuk menyelidiki serangan yang dilakukan oleh pemberontak pada 19 Maret di Khan desa al-Assal di utara kota Aleppo.

Sementara pemerintah Suriah bersikeras bahwa penyelidikan hanya sebatas insiden itu, Ban mendesak agar penyelidikan dilakukan lebih luas, termasuk insiden Desember di Homs. Penyidik akhirnya tidak diizinkan masuk ke negara itu.

Setiap konfirmasi penggunaan senjata kimia dapat meningkat respon internasional terhadap konflik yang sudah berlangusng lebih dari dua tahun ini, yang telah menewaskan lebih dari 94.000 orang, menurut PBB.

Laporan terbaru PBB, yang mencakup periode dari pertengahan Januari sampai pertengahan Mei, menuduh kedua pihak melakukan kejahatan perang.

Laporan itu menuduh pasukan pemerintah dan milisi yang berafiliasi melakukan penyiksaan, pemerkosaan, pemindahan paksa dan penghilangan paksa.

Dia juga menuduh pemberontak melaksanakan eksekusi tanpa proses hukum, serta melakukan penyiksaan, menyandera dan penjarahan. [*]



Redaktur: Teguh Nugroho

Scroll To Top